
BANDA ACEH - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, Jumat (13/11), secara resmi menyerahkan aset Pelabuhan Sabang kepada Pemerintah Aceh. Serah terima berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, ditandai dengan penandatanganan berita acara antara Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, dengan Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelindo I, Bambang Cahyana, disaksikan Menneg BUMN, Dr Mustafa Abubakar MSi.
Kepada wartawan usai acara tersebut, Bambang menjelaskan, total nilai aset yang diserahkan itu mencapai Rp 16,31 miliar, meliputi bangunan gedung, dermaga, kantor, dan tanah. “Sepenuhnya kita serahkan ke Pemerintah Aceh. Pelindo tidak campur tangan lagi. Tapi bila Pelindo diminta membantu, kita siap membantu,” kata Bambang.
Gubernur Irwandi Yusuf menyatakan, dengan diserahkan aset berupa Pelabuhan Sabang itu, Pemerintah Aceh akan lebih leluasa dalam melakukan pengembangan. “Ini merupakan langkah awal untuk melakukan terobosan ke depan,” ucap Irwandi. Ke depan, Pelabuhan Sabang dengan statusnya sebagai Pelabuhan Bebas (Freeport) akan dikembangkan menjadi pelabuhan internasional. Namun, untuk menuju ke sana membutuhkan dana yang tidak sedikit. Gubernur memperkirakan, pengembangan Pelabuhan Sabang butuh dana Rp 4 sampai Rp 5 triliun lagi.
“Langkah awal kita mencari partner. Dublin Port sudah pasti, tinggal cari beberapa investor lain. Kalau mereka punya saham, mereka akan parkir di Sabang,” ujar Gubernur Irwandi. Pengelolaan pelabuhan selanjutnya akan diserahkan kepada Badan Pengusaha Kawasan Sabang (BPKS). Wakil Ketua BPKS, Ir Nasruddin MSc, menambahkan transfer ke BPKS akan dilakukan dalam waktu dekat setelah mendapat persetujuan dari DPR Aceh.
Saat ini, kata Nasruddin, selain sedang disiapkan dermaga baru yang ditargetkan selesai tahun 2011, BPKS juga bersiap melakukan kerja sama joint operating dengan Dublin Port. BPKS juga akan mencari investor lain mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk pengembangan pelabuhan. “Kerja sama dengan Dublin Port masih dalam tahap uji coba. BPKS memberi batas waktu selama 18 bulan untuk bisa menunjukkan hasilnya, setelah itu baru diperpanjang,” jelas Nasruddin.
Pengembangan pelabuhan
Dengan diserahkannya Pelabuhan Sabang, PT Pelindo selanjutnya akan memfokuskan diri pada pengembangan tiga pelabuhan yang tersisa, yakni Pelabuhan Meulaboh, Lhokseumawe, dan Malahayati di Aceh Besar. Anggaran yang dibutuhkan hingga lima tahun ke depan mencapai Rp 350 miliar. Masing-masing Rp 150 miliar untuk Pelabuhan Meulaboh dan Lhokseumawe, dan Rp 100 milar untuk Pelabuhan Malahayati. “Untuk itu, kita akan mengundang pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan Pelindo,” ucap Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelindo I, Bambang Cahyana.
Pelabuhan Meulaboh dikatakan akan disiapkan menjadi pelabuhan pengangkutan untuk crude palm oil (CPO). Investasi dilakukan mulai 2010 dengan membangun instalasi handing CPO terpadu, mulai dari tankstorage, pipa, pompa, maupun yang lainnya. Pelabuhan Malahayati juga akan dipoles menjadi pelabuhan peti kemas dengan area parkir kapal (sea way) seluas 11 hektare. Sedang Pelabuhan Lhokseumawe akan disiapkan menjadi terminal terpadu. Baik untuk pusat logistik, maupun distribusi bahan kebutuhan di Aceh. Bahkan dalam waktu dekat sebuah Perusahaan BUMN, PT Djakarta Lloyd, akan membuka rute pelayaran pengangkutan barang langsung dari Jakarta ke Pelabuhan Kreung Geukeuh, Lhokseumawe. “Pelayaran dimulai tanggal 15 November 2009 ini. Dari Aceh nanti akan diangkut karet, kopi, dan pinang,” demikian Bambang.
Peluncuran buku
Usai acara serah terima pelabuhan itu, tadi malam di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Menneg BUMN Mustafa Abubakar meluncurkan buku biografi dan pengalamannya setahun memimpin Aceh pada tahun 2006 sebagai Penjabat (Pj) Gubernur. Buku itu berjudul, Mustafa Abubakar Berani Tidak Populer.
Labels:














